Sejak runtuhnya orde otoriter dan digantikan dengan orde reformasi, pergerakan pemuda yang kala itu 'memang' paling di depan, bersusah payah dan bahkan juga berdarah-darah dalam menumbngkan rezim diktator, sedang hidup dalam alam gerak yang memang menuntut untuk kadangkala menggunakan cara-cara 'kekerasan' (hard power).
Lewat aksi serang fikiran, demonstrasi, dan seringkali juga dengan cara konfrontasi fisik melawan aparat negara: tentara dan polisi. Cara-cara semacam itu wajar saja dan dapat di maklumi. Maklum, zaman itu memang menuntut untuk pergerakan pemuda harus bersegera mungkin menumbangkan rezim dengan cara apapun dan kapanpun, termasuk konfrontasi fisik.
Ada pepatah mengatakan, bahwa jika seseorang melakukan kesalahan karena kelalaiannya (baca: kebodohannya) maka tegur dan ingatkan ia dengan cara yang baik. Namun jika ia melakukan kesalahan dengan kesadarannya, artinya dengan kesengajaannya, maka peringatkan ia dengan keras. Jika ia menyerang, maka serang balik lah sampai ia pun tumbang sama sekali!
Semua cara-cara semacam diatas sesuai dengan kondisi saat itu. Cara-cara yang dilakukan adalah gambaran kondisi zaman yang terkadang harus kita maklumi sebagai medium dalam perkembangan dan tuntutan zaman.
Pasca reformasi, sekarang tentunya, keadaan telah berubah. Landscape kondisi bangsa dan negara tidak seperti dulu. Saat ini tidak ada lagi pemimpin tiran, diktator atau otoriter, sehingga menuntut pergerakan pemuda harus melawan (jika ia salah) dengan cara-cara kekerasan pula. Apalagi dalam melakukan aktifitas demonstrasinya, mereka sibuk berteriak-teriak 'turunkan presiden', atau 'revolusi, revolusi, revolusi sampai mati'.
Kata-kata yang memiliki makna dan sugesti dahsyat semacam revolusi, perubahan dan 'lawan' akan kehilangan maknanya yang sejati dan tentu juga efek penggeraknya tatkala seringkali di obral pada tempat dan keadaan yang salah.
Sehingga, alih-alih ingin menggerakkan kekuatan maksimal, yang dilakukan justru akan di pandang sebagai suatu tontonan publik dan hiburan semata.
Perubahan Zaman Menuntut Perubahan Cara Berjuang
Memaknai arti perubahan harus berbanding lurus dengan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri. Merubah cara berfikir yang akan menentukan cara gerak dalam melakukan aktifitas kejuangan dalam upayanga mewujudkan cita-cita, dan juga mempersiapkan diri secara internal organisasi gerakan sebagai alat perjuangan.
Siapapun dan dimanapun, betapapun ia memiliki basis massa yang besar secara kuantitas, tapi lemah secara kualitas, apalagi lemah dalam penguasaan alat-alat penopang perjuangan: semisal media massa, cetak, online dll, juga kapital, dan bahkan kesolidan gerakan secara luas, maka sudah pasti dijamin tujuan-tujuan gerakannya tidak akan pernah dapat di realisasikan.
Zaman ini menuntut mereka, kaum pergerakan harus dapat merestrukturisasi dirinya. Membangun kesadaran sejarah yang terlampau hilang dari imajinasinya, juga degradasi moral perjuangan yang melemahkan daya gerak dan gedor aktifitas pergerakannya.
Mereka harus mampu merubah paradigma 'turun kejalan' (baca: demonstrasi) sebagai cara utama perjuangan: menyampaikan aspirasi sebagai upaya menuntut dan mendorong negara untuk kembali ke jalur yang benar. Mereka juga harus memahami dengan sungguh-sunguh, bahwa yang paling buruk dalam suatu pergerakan adalah bertebarannya massa namun lemah nalarnya. Tak ubahnya seperti robot, mungkin juga mesin-mesin tanpa ideologi.
Artinya, kondisi zaman yang telah berubah ini menuntut agar terjadinya suatu proses adaptasi gerakan dalam tubuh pergerakan pemuda. Yang tidak melulu asik dengan euforia masa lalu. Riak-riak sejarah yang tidak bisa kita ulang kembali.
Lawan sejati pergerakan, yaitu Feodalisme dan Kapitalisme pun telah jauh-jauh hari merubah dirinya lewat adaptasi cara kerja sesuai dengan keadaan zaman (situasi dan kondisi). Perubahan dalam tubuh kedua musuh itu seringkali kita sebut sebagai Neo-Feodalisme dan Neo-Kapitalisme! Feodalisme dan Kapitalisme dalam rupa baru, wajah dan gaya baru.
Jika mereka saja telah mampu berubah wajah dengan tampilan yang sangat mutakhir yang super canggihnya, lalu apakah waras jika kita berharap dapat menumbangkannya dengan cara-cara dan gaya lama, yang telah usang?
Pergerakan Abad 21
Sudah saatnya pergerakan pemuda melalukan perubahan secara besar-besaran dalam tubuhnya. Dan membangun pergerakan yang sesuai dengan tuntutan dan kemauan abad 21. Lupakan dan tinggalkan cara berjuang abad 20, apalagi masih terlena dengan gaya-gaya abad 19 yang telah usang.
Terlebih dahulu mereka harus mampu membangun kesadaran sejarah: keniscayaan sejarah, kemauan sejarah dan tuntutan-tuntutannya dalam setiap perjalanan kehidupan manusia. Kemudian mereka harus memperkuat kesadaran Ideologi, juga tiap-tiap seluk beluk ideologi dan cara-cara kerjanya. Lalu mereka harus membangun kesadaran berkebangsaan yang berorientasi internasionalisme yang berbasis kepada gagasan nasionalisme. Baru setelah itu mereka harus mampu memperbaiki struktur organisasi pergerakannya yang masih saja 'kuno'. Yang masih berorientasi memperebutkan kadera di kampus-kampus masing-masing.
Pergerakan Pemuda Abad 21 menuntut agar melalui organisasi gerakan yang di isi oleh manusia-manusia yang berparadigma Peradaban itu harus lebih mengedepankan model kerja-kerja intelektual yang nyata. Mengedepankan soft-confrontasi ketimbang hard-konfrontasi.
Pergerakan Pemuda Abad 21 menutut agar pemuda harus mampu merebut kuasa terhadap media digital. Sebab perang yang paling sengit pada abad 21 adalah perang melalui media.
Jika saat ini adalah era globalisasi, dan oleh karena itu feodalisme dan kapitalisme menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan globalisasi itu, maka Pergerakan Pemuda Abad 21 harus mampu mengkoneksikan perjuangannya secara luas, nasional, regional dan bahkan internasional, intinya, pegerakan feodalisme dan kapitalisme secara global harus dilawan dengan pergerakan pemuda secara global pula, tanpa sekat, tanpa batas.
Akhirnya, untuk pertama dan terutama yang harus dilakukan adalah mereka harus mampu mendorong agar revolusi paradigma terjadi dalam tubuh mereka sendiri. Memperkuat kesadaran ideologi, memperluas jangkauan gerakan, dan mengkoneksikan gerakan itu dalam satu wadah besar, yang di dalamnya berkumpul setiap entitas kebangsaan: golongan, agama, suku, budaya. Dan bahkan secara internasional mereka harus mampu mengkoneksikan gerakannya secara luas menjangkau negara-negara di dunia.
Karena Nasib Masyarakat Dunia kembali kepada kesadaran dalam memahami tugas dan tanggungjawab generasi-generasi penerusnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar